new obilog: gado-gado blog si obie

Aduh2x lagi2x membodohi rakyat!!!

Ttng kecerdikan Pemerintah terhadap pemberian insentif listrik. Terdapat aturan yg mimpi, dan cenderung ke penaikan tarif listrik. Wah jd mesti ngehemat pemakaian Komputer nih, biar ngga bengkak. Katany sih kenaikan sampe 1.6 kali lipat. Bayangin aj klo biasany ada teman di kostny bayar sampe 500rb sebulan utk 9 org, klo kena disinsentif bs bayar sampe 800 rebu. Krn yg dpt diskon 20% cuman yg pemakaian dibawah 75kwh, itumah pemakaian listrik serumah cuman nyala 1-2 lampu aj. Aduh2x pemerintah nih, emang rakyatmu nih bodoh bgt yah, Jujur napa, biar kitany bs belajar berpikir gtu..Sy kutip dr pikiran-rakyat.com :

 

 

Rencana pemerintah memberi insentif dan disinsentif terhadap pelanggan listrik milik PLN adalah upaya menaikkan tarif secara terselubung. Upaya tersebut dinilai tidak realistis, karena penetapan insentif hanya kepada pengguna di bawah batas 80 persen pemakaian, atau sekitar 75 kwh per bulan bagi pelanggan rumah tangga.

Hal itu dikemukakan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, di Jakarta, Minggu (24/2). “Pemakaian tidak lebih dari 75 kwh per bulan adalah mimpi. Sebab berdasarkan penghitungan, rata-rata konsumsi listrik pelanggan di Jawa di atas 75 kwh. Praktis konsumen di luar Jawa tak bisa memanfaatkan insentif karena tidak masuk kriteria konsumsi 80 persen dari kuota,” katanya.

Tulus mengatakan, angka sebesar itu hanya bisa dinikmati oleh pelanggan miskin di Papua dan Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan penghitungan YLKI, penggunaan listrik di daerah itu sekitar 66 kwh per bulan. “Ini kenaikan tarif terselubung yang dibungkus dengan insentif. Sebabnya, hampir sulit buat pelanggan mendapatkan insentif tarif listrik 20 persen dengan patokan penggunaan listrik 75 kwh per bulan. Masyarakat akan membayar 1,6 kali lebih banyak dari biasanya,” ujarnya.

Menurut dia, sebaiknya pemerintah jujur mengatakan kepada masyarakat telah menaikkan tarif dasar listrik. “Pemerintah harus jujur dan membuat masyarakat lebih cerdas,” katanya menandaskan.

Dengan mengatakan secara jujur, kata Tulus, akan membuat masyarakat menyadari besarnya beban kelistrikan dan minimnya sumber energi dalam negeri. “Dengan berbicara jujur, masyarakat dapat lebih menerima dan akan belajar dari kondisi ini,” ungkapnya.

    You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.